Cerita ini bermula pada Kamis, 1 November 2012……
Bapak S, usia 50 tahun, datang ke UGD RSUD Banyumas dengan keluhan sesak napas.
1 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh sesak, dada sakit, mual namun tidak ada muntah, sakit saat makan, tangan, perut, dan kaki bengkak, buang air kecil normal, buang air besar disertai darah. Pada hari masuk rumah sakit, pasien mengeluh sesak, dada sakit, mual tidak ada muntah, sakit saat makan, tangan, perut, dan kaki bengkak, buang air kecil dan buang air besar normal. Pasien pernah disarankan untuk menjalani hemodialisis.
Pasien mempunyai riwayat tekanan darah tinggi sudah 1 tahun, diobati. Ibu dan kakak pasien juga menderita tekanan darah tinggi. Pasien sering mengalami kencing batu saat masih muda.
Dari pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 140/70 mmHg, denyut nadi 92x/menit, respirasi 28x/menit, suhu tubuh 36,9.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis, jugular venous pressure meningkat, suara jantung 1 dan 2 ireguler, ada suara jantung 3 sedikit terdengar, perut nampak membesar (bengkak), keempat ekstremitas bengkak.
Dari pemeriksaan EKG didapatkan ST depresi di lead V5 dan V6 (tanda miokard infark/serangan jantung). Sedangkan dari lab didapatkan total protein dan albumin turun (menyebabkan bengkak), angka eritrosit, hemoglobin, hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC menurun (tanda anemia), kadar natrium turun sedangkan kalium naik (gangguan keseimbangan elektrolit), namun Urea dan kreatinin normal (tanda penyakit ginjal).
Pasien dikelola dengan gagal jantung kongestif karena penyakit jantung iskemik atau penyakit jantung hipertensif, anemia mikrositik-hipokromik, dan cedera ginjal akut.
Bapak S bisa diajak bicara dengan baik, menceritakan riwayat penyakitnya dengan begitu mendetil, ditemani istrinya yang sesekali menimpali cerita beliau.
Esok harinya (Jumat), Bapak S masuk ke Bangsal Melati dan menjadi pasien yang saya kelola. Saat saya periksa dan ajak bicara, beliau mengeluh perutnya semakin membesar. Beliau mengatakan hal tersebut sambil duduk karena berbaring membuatnya sesak. Saat dr. Hery Agoestono, Sp.PD datang untuk visit, saya mengatakan bahwa saya ingin ujian pemeriksaan dengan Bapak S karena diagnosis fisiknya bagus. Namun, dr. Hery bilang bahwa ia baru bisa pekan depan. Yasudah, saya pending. Sabtunya, saya dirotasikan ke Bangsal Cempaka, sehingga Bapak S tidak lagi saya kelola……..
Selasa, 6 November 2012 pagi……..
Saya baru saja dari warung di RS untuk makan makanan kecil ketika melihat rombongan sesama koas interna dan residen dari arah Bangsal Melati. Saya bertanya ke salah satu teman saya, Ojan.
“Jan, dari mana?”
“Dari Melati, ada pasien plus.” Plus di sini berarti meninggal.
“Oh, yang mana?”
“Yang bapak itu, pasienmu kemarin.”
“…”
Speechless…… Terkejut…….
Padahal terakhir saya periksa, beliau masih terlihat tidak sakit berat, masih bisa menceritakan keluhan-keluhannya, dan lain-lain.
Bahkan, saat si Ojan yang memegang, beliau sempat bercerita banyak.
“Wah, ternyata di RS Banyumas sini enak ya, padahal urusan administrasi belum selesai tapi tetap bisa masuk. Yang meriksa juga baik, kaya masnya, mas yang kemarin juga.” Begitu kira-kira petikan kalimat beliau yang diceritakan Ojan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Bukannya sombong, saya merasa terharu, di akhir hidup Bapak S saya bisa memberikan sesuatu yang terbaik, memberikan kenyamanan perasaannya.
Sampai tua nanti mungkin saya tidak akan lupa tentang anda, Pak. Mungkin anda adalah salah satu guru terbaik bagi saya dalam keilmuan dan kehidupan.
Sayangilah selalu kedua orang tua kita, doakan mereka selalu, dan mintalah doa mereka selalu ke manapun jalanmu menuju. Dunia itu berbahaya, doa orang tua ada sebagai pembatasnya.
Angga Aditya Wirawan